Portfolio  /  2026  ·  Issue No. 014

Maya
Kirana

Sebuah katalog cahaya, ruang, dan keheningan.

Maya Kirana  —  Jakarta  /  Bali  /  Tokyo  —  Est. 2018

Daftar Isi

Dalam Edisi Ini

  1. 01 Galeri Pilihan hal. 12
  2. 02 Esai — Cahaya yang Pulang hal. 28
  3. 03 Layanan hal. 44
  4. 04 Tentang Maya hal. 60
  5. 05 Proses Kerja hal. 72
  6. 06 Kontak hal. 80

02  —  Esai Pilihan

“Setiap foto adalah sebuah cerita yang menunggu untuk diceritakan—dan setiap cerita, sebuah cara untuk pulang.”

Maya Kirana  ·  Catatan Lapangan, 2025

03  —  Layanan

Empat Disiplin

Setiap proyek didekati dengan kesabaran yang sama: mendengar dahulu, mengangkat kamera kemudian.

i.

Wedding

Mulai dari Rp 18.500.000

Dokumentasi pernikahan dengan pendekatan jurnalistik yang tenang. Saya hadir bukan sebagai sutradara, melainkan sebagai pencatat momen—tawa kecil ibu, tangan ayah yang gemetar, hujan yang datang tepat saat janji diucapkan. Paket termasuk persiapan, akad, dan resepsi.

ii.

Editorial

Per hari Rp 12.000.000

Kerja sama dengan majalah, rumah mode, dan publikasi independen. Tujuh tahun terakhir bekerja untuk Vogue Indonesia, Kinfolk Asia, dan beberapa lookbook butik lokal. Penyutradaraan, art direction, hingga retouching dapat ditangani oleh tim kecil saya.

iii.

Portrait

Mulai dari Rp 4.500.000

Sesi potret pribadi maupun keluarga di studio Kebayoran atau di lokasi pilihan. Saya percaya potret terbaik datang dari percakapan, bukan pose. Sesi berdurasi dua jam dengan dua puluh hingga tiga puluh hasil akhir yang diolah dengan tangan.

iv.

Brand & Still Life

Per proyek Rp 9.000.000

Fotografi produk untuk brand independen yang mengutamakan craft. Pendekatan still life dengan cahaya alami, tekstur kain, kayu, dan keramik. Cocok untuk peluncuran koleksi, lookbook musiman, maupun kampanye media sosial yang elegan.

04  —  Tentang

Maya Kirana

Portrait Maya Kirana
Portrait · Studio Kebayoran · Februari 2026

Maya Kirana lahir di Yogyakarta pada 1991, di sebuah rumah yang halaman belakangnya menghadap sawah dan langit yang berubah warna setiap sore. Kamera pertamanya adalah Yashica milik ayahnya—sebuah kotak kayu dan logam yang berat, yang ia bawa ke mana-mana sejak kelas tiga SMA. Ia belajar bahwa cahaya tidak pernah datang dua kali dengan cara yang sama.

Setelah delapan tahun bekerja sebagai art director di Jakarta, Maya mendirikan Lensa Studio pada 2018—sebuah praktik kecil yang berfokus pada fotografi editorial, pernikahan yang tenang, dan kolaborasi dengan brand independen. Karyanya pernah dimuat di Vogue Indonesia, Kinfolk Asia, Cereal Magazine, serta sejumlah katalog seni di Tokyo dan Singapura.

Ia kini tinggal berpindah-pindah antara Jakarta, Ubud, dan rumah tua di Kotagede yang dipenuhi cetakan film dan tanaman pakis. Membaca puisi sebelum memotret. Menyukai teh putih, hujan sore, dan suara rana yang hampir tak terdengar.

“Saya tidak pernah memotret untuk menangkap dunia. Saya memotret untuk berhenti sejenak di dalamnya.”

— Maya, untuk Cereal Magazine, 2024

05  —  Pendekatan

Empat Babak

Sebuah ritme yang hampir tak berubah selama tujuh tahun.

01

Percakapan

Sesi awal di kafe atau panggilan video. Mendengar cerita, harapan, dan ketakutan kecil sebelum kamera muncul.

02

Persiapan

Survei lokasi, papan suasana, daftar lensa, dan jadwal cahaya. Setiap pemotretan dimulai jauh sebelum hari H.

03

Pemotretan

Hari yang tenang. Sedikit instruksi, banyak kesabaran. Saya hanya menekan rana ketika cahaya dan jiwa bertemu.

04

Penyuntingan

Pemilihan dilakukan satu per satu di Kotagede, di bawah lampu kuning. Pengiriman dalam tiga hingga enam minggu.

06  —  Kontak

Jika Anda memiliki cerita yang ingin diabadikan,
saya akan dengan senang hati mendengarnya.

Kalender 2026 kini terbuka untuk pemotretan editorial dan tujuh pernikahan terpilih. Mohon sertakan tanggal, lokasi, dan beberapa kalimat tentang Anda.

Studio · Jl. Kebayoran Lama 21, Jakarta Selatan

Naytera Preview Template · Rp 849.999
Dapatkan Template →